KELOMPOK WANITA TANI BERSAMA PENYULUH LUWU UTARA

Pandemi Covid-19 yang juga terjadi di negara kita mengakibatkan terjadinya penurunan bahkan terhentinya berbagai sektor usaha. Hal ini tentu saja berdampak terhadap kondisi ekonomi dan pendapatan keluarga. Turunnya pendapatan membuat kaum ibu harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya di tengah pandemi ini.

Peran ibu dalam menjaga ketahanan pangan keluarga di masa pandemi covid-19 setidaknya terbagi dalam tiga hal: pertama, kemampuan untuk mengatur ekonomi keluarga sehingga mampu untuk membeli kebutuhan pangan. Pepatah mengatakan tidak boleh besar pasak daripada tiang (pengeluaran tidak lebih besar dari pendapatan).

Kedua, kreatifitas ibu dalam melakukan diversifikasi pangan yang ternyata juga dipengaruhi kondisi alam dan sosial budaya di sekitarnya. contohnya dalam pemanfaatan bahan pangan lokal seperti sinole,kapurung, dange dari sagu.

Ketiga, kreatifitas ibu untuk memanfaatkan lahan kosong yang ada di pekarangan sebagai tempat menanam tanaman pangan. Para ibu yang tinggal di perdesaan biasanya akan memanfaatkan tanah di sekitar rumahnya untuk menanam bermacam kebutuhan pangan. Ketela, cabe, sayuran, bumbu dapur, dan palawija biasanya ditanam di sekitar rumah untuk menunjang pangan keluarga. Mereka yang tinggal di perkotaan dengan lahan perumahan yang terbatas , dapat memanfaatkan pot, polybag yang disusun secara vertikal untuk menanam beragam sayuran yang bermanfaat bagi keluarga.

Upaya memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dilakukan oleh ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek, yang berada di Desa Bantimurung, Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu Utara. Ketua KWT, Suhaeba, A.Ma.Pd mengatakan, tanaman yang dibudidayakan di lahan pekarangan adalah sayuran terong dan cabe. “Kami bersama-sama ibu-ibu anggota KWT, memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong dengan menanaminya sayuran dan cabe, sehingga sumber bahan pangan bisa tersedia di pekarangan setiap rumah tangga, tanpa perlu keluar biaya membeli ke pasar,” tutur Suhaeba. Selasa (22/6/2020).

Kegiatan pemanfaatan pekarangan ini, juga tidak lepas dari bimbingan Penyuluh Pertanian dari BPP Bone-Bone, Nurawal, SP. “Sebagai penyuluh pertanian, tentu tugas kami membimbing ibu-ibu KWT terkait teknis budidaya tanaman agar tanaman yang di tanaman di pekarangan dapat tumbuh dengan subur,” kata Nurawal.

“Harapan kami kegiatan pemanfaatan pekarangan bisa dilakukan mulai di tingkat rukun tetangga dan juga bisa melibatkan para kader PKK di Kabupaten Luwu Utara melaksanakan program ini untuk menunjang pangan keluarga. Selain tanaman pangan, lahan kosong di pekarangan juga dimanfaatkan untuk menanam tanaman obat keluarga. Model kreatifitas yang dilakukan secara serentak akan bermanfaat dalam menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi saat ini,” jelas Nurawal

Kerja nyata penyuluh pertanian Nurawal di lapangan sesuai dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi yang meminta penyuluh pertanian untuk tetap bekerja mendampingi petani. “Penyuluh pertanian harus aktif dan produktif mendampingi petani agar proses budidaya di lahan sampai panen berjalan dengan baik. Termasuk dalam memanfaatkan pekarangan, edukasi petani agar memanfaatkan lahan pekarangan, bahkan petani diedukasi agar bisa memproduksi sendiri sarana produksinya, seperti pupuk organik dari limbah rumah tangga,” jelas Dedi.

 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu memotivasi masyakarat untuk tetap produktif di tengah pandemi dengan memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan. “Dampak corona membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Salah satu solusinya adalah dengan cara bertani. Rahmat Tuhan ada disekitar kita, maka tanamlah yang bisa di tanam, karena bertani bisa membuat orang sejahtera, minimal bisa menyiapkan pangan secara mandiri,” ungkap Mentan SYL.

Sumber : sigapnews.com

Comments ( 0 )

Post a comment